sesudah kesulitan pasti ada kemudahan...asalkan ada niat....usaha......dan do'a....... keepp fight!!!!

Jumat, 18 Agustus 2017



Do’a sesudah shalat Tarawih:

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ : اَلْحَمْدُلِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ حَمْدًايُوَافِى نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ , اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَامُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِ سَيِّدِنَامُحَمَّدٍ , اَللَّهُمَ اجْعَلْنَا بِاْلاِيْمَانِ كَمِلِيْنَ , وَلِلْفَرَائِضِ مُؤَدِّيْن . وَللِصَّلاَةِحَافِظِيْنَ , وَللِزَّكَاةِ فَاعِلِيْنَ , وَلِمَاعِنْدَكَ طَالِبِيْنَ , وَلِعَفْوِكَ رَاجِيِّنَ , وَبِاْلهُدَى مُتَمَسِّكِيْنَ , وَعَنِ اللَّغْوِمُعْرِضِيْنَ , وَفىِ الدُّنْيَازَاهِدِيْنَ , وَفىِ اْلاخِرَةِرَاغِبِيْنَ , وَبِالْقَضَاءِرَضِيْنَ , وَبِالنَّعْمَاءِشَاكِرِيْنَ , وَعَلىَ اْلبَلاَءِصَابِرِيْنَ , وَتَحْتَ لِوَءِ سَيِّدِنَامُحَمَّدٍصَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ سَائِرِيْنَ , وَاِلىَ اْلحَوْضِ وَارِدِيْنَ , وَاِلىَ اْلجَنَّةِدَلخِلِيْنَ , وَمِنَ النَّارِنَاجِيْنَ , وَعَلَ سَرِيْرِاْلكَرَامَةِ قَاعِدِيْنَ , وَمِنْ حُوْرِاْلِعَيْنِ مُتَزَوِّجِيْنَ , وَمِنْ سُنْدُ سٍ وَاِسْتَبْرَقٍ وَّدِيْبَاحٍ مُتَلَبِّسِيْنَ , وَمِنْ طَعَامِ اَلجَنَّةِ آ كِلِيْنَ وَمِنْ لَبَنٍ وَعَسَلٍ مُصَفًى شَارِبِيْنَ , بِاَكْواَبٍ وِّاَبَارِيْقَ وَكَأْسٍ مِنْ مَعِيْن , مَحَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّيْنَ وَالصِْدِّ يْقِيْنَ وَالشُّهَدَاءِوَالصَّلِحِيْنَ , وَحَسُنَ اُولَئِكَ رَفِيْقًا , ذَلِكَ اْلَفَضْلُ مِنَ الله وَكَفىَ بِاللهِ عَلِيْم َ وَاْلحَمْدُ لله رَبِّالْعَالَمِيْن

“ALLAAHUMMAJ’ALNAA BIL IIMAANI KAAMILIINA. WALIFARAA-IDLIKA MU-ADDIINA WA-ALASH SHALAWAATI MUHAAFIDHIINA. WALIZZAKAATI FAA’ILIINA WALIMAA ‘INDAKA THAALIBIINA. WALI-AFWIKA RAAJINA, WABIL HUDAA MUTAMASSIKIINA. WA-ANIL LAGHWI MU’RIDLIINA WAFID DUNYAA ZAAHIDIINA, WAFIL AAKHIRATI RAAGHIBIINA, WABIL QADLAA-I RAADLIINA, WABIN NA’MAA-I SYAAKIRIINA. WA-ALAL BALAA-I SHAABIRIINA WATAHTA LIWAA-I SAYYIDINAA MUHAMMADIN SHALLALLAAHU ‘ALAIHI WASAI LAMA YAUMAL QIYAAMATI SAAIRIINA WA’ALAL HAUDLI WAARIDIINA, WAFIL JANNATI DAKHILIINA. WA-ALAA SARIIRATIL KARAAMATI QAA’IDIINA. WABIKHUURIN ‘IININ MUTAZAWWIJIINA WAMIN SUNDUSIN WAISTABRAQIN WADIIBAAJIN MUTA-LABBISIINA WATHA’AAMIL JANNATI AAKILIINA. WAMIN LABANIN WA’ASALIN MUSHAFFIINA SYAARIBIINA BIAKWAABIN WA-ABAARIIQA WAKA’SIN MIM MA’IININ MA’AL LADZIINA AN’AMTA ‘ALAIHIM MINAN NABIYYIINA WASH SHIDDIIQIINA WASY SYUHADAA-I WASH-SHAALIHIINA WAHASUNA ULAA-IKA RAFIIQAA, DZAALIKAL FADLLU MINALLAAHI WAKAFAA BILLAAHI ‘ALIIMA. WALHAMDU LILLAAHI RABBIL ‘AALAMIIN”.
Artinya :
“Ya Allah, jadikanlah kami (orang-orang) yang imannya sempurna, dapat menunaikan segala fardlu, menjaga shalat. Menunaikan zakat, menuntut/mencari segala kebaikan di sisiM, mengharap ampunan-Mu senantiasa memegang teguh petunjuk-petunjukMu, terlepas/terhindar dari segala penyelewengan dan zuhud di dunia dan di akherat dan tabah (sabar) menerima cobaan, mensyukuri segala nikmat-Mu dan semoga nanti pada hari kiamat kami dalam satu barisan di bawahnaungan panji-panji junjungan kita Nabi Muhammad saw, dan melalui talaga yang sejuk, masuk didalam sorga, terhindar dari api neraka dan duduk di tahta kehormatan, didampingi oleh bidadari sorga, dan mengenakan baju-baju kebesaran dari sutra berwarna-warni, menikmati santapan sorga yang lezat, minum susu dan madu yang suci bersih dalam gelas-gelas dan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat pada mereka dari golongan para Nabi, shiddiqin dan orang-orang yang syahid serta orang-orang shahih. Dan baik sekali mereka menjadi teman-teman kami. Demikianlah kemurahan dari Allah SWT, dan kecukupan dari Allah Yang Maha Mengetahui. Dan segala puji bagi Allah Tuhan seru sekalian alam”.
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، حَمْدًا يُوَافِي نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ، يَا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِيْ لِجَلاَلِ وَجْهِكَ وَعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
اَللَّهُمَّ اجْعَلْنَا بِاْلإِيْمَانِ كَامِلِيْنَ، وَلِفَرَائِضِكَ مُؤَدِّيْنَ، وَعَلَى الصَّلَوَاتِ مُحَافِظِيْنَ، وَلِلزَّكَاةِ فَاعِلِيْنَ، وَلِمَا عِنْدَكَ طَالِبِيْنَ، وَلِعَفْوِكَ رَاجِيْنَ، وَبِالْهُدَى مُتَمَسِّكِيْنَ، وَعَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضِيْنَ، وَفِى الدُّنْيَا زَاهِدِيْنَ، وَفِى اْلآخِرَةِ رَاغِبِيْنَ، وَبِالْقَضَاءِ رَاضِيْنَ، وَبِالنَّعْمَاءِ شَاكِرِيْنَ، وَعَلَى الْبَلاَيَا صَابِرِيْنَ، وَتَحْتَ لِوَاءِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ  يَوْمَ الْقِيَامَةِ سَائِرِيْنَ، وَعَلَى الْحَوْضِ وَارِدِيْنَ، وَفِى الْجَنَّةِ دَاخِلِيْنَ، وَعَلَى سَرِيْرَةِ الكَرَامَةِ قَاعِدِيْنَ، وَبِحُوْرٍ عِيْنٍ مُتَزَوِّجِيْنَ، وَمِنْ سُنْدُسٍ وَإِسْتَبْرَقٍ وَدِيْبَاجٍ مُتَلَبِّسِيْنَ، وَمِنْ طَعَامِ الْجَنَّةِ آكِلِيْنَ، وَمِنْ لَبَنٍ وَعَسَلٍ مُصَفَّيْنِ شَارِبِيْنَ، بِأَكْوَابٍ وَأَبَارِيْقَ وَكَأْسٍ مِنْ مَعِيْنٍ، مَعَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّيْنَ وَالصِّدِّيْقِيْنَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِيْنَ.

“ALLAAHUMMAJ’ALNAA BIL IIMAANI KAAMILIINA. WALIFARAA-IDLIKA MU-ADDIINA WA-ALASH SHALAWAATI MUHAAFIDHIINA. WALIZZAKAATI FAA’ILIINA WALIMAA ‘INDAKA THAALIBIINA. WALI-AFWIKA RAAJINA, WABIL HUDAA MUTAMASSIKIINA. WA-ANIL LAGHWI MU’RIDLIINA WAFID DUNYAA ZAAHIDIINA, WAFIL AAKHIRATI RAAGHIBIINA, WABIL QADLAA-I RAADLIINA, WABIN NA’MAA-I SYAAKIRIINA. WA-ALAL BALAA-I SHAABIRIINA WATAHTA LIWAA-I SAYYIDINAA MUHAMMADIN SHALLALLAAHU ‘ALAIHI WASAI LAMA YAUMAL QIYAAMATI SAAIRIINA WA’ALAL HAUDLI WAARIDIINA, WAFIL JANNATI DAKHILIINA. WA-ALAA SARIIRATIL KARAAMATI QAA’IDIINA. WABIKHUURIN ‘IININ MUTAZAWWIJIINA WAMIN SUNDUSIN WAISTABRAQIN WADIIBAAJIN MUTA-LABBISIINA WATHA’AAMIL JANNATI AAKILIINA. WAMIN LABANIN WA’ASALIN MUSHAFFIINA SYAARIBIINA BIAKWAABIN WA-ABAARIIQA WAKA’SIN MIM MA’IININ MA’AL LADZIINA AN’AMTA ‘ALAIHIM MINAN NABIYYIINA WASH SHIDDIIQIINA WASY SYUHADAA-I WASH-SHAALIHIINA.
 WAHASUNA ULAA-IKA RAFIIQAA, DZAALIKAL FADLLU MINALLAAHI WAKAFAA BILLAAHI ‘ALIIMA. WALHAMDU LILLAAHI RABBIL ‘AALAMIIN”.

 Ya Allah jadikan kami orang-orang yang sempurna, dapat menunaikan segala
 fardhu, menjaga sholat, menunaikan zakat, mencari segala kebaikan di sii-Mu,mengharap ampunan-Mu, senantiasa memegang teguh petunjuk-Mu, terhindar dari keburukan dan zuhud di dunia dan mencintai amal untuk bekal di akhirat dan sabar menerima cobaan, mensyukuri segala nikmat-Mu dan semoga berada dalam naungan panji Nabi Muhammad saw pada hari kiamat, dan melalui telaga yang sejuk, masuk dalam syurga, terhindar dari api neraka, dan duduk di tahta kehormatan, didampingi para bidadari syurga, dan mengenakan baju dari sutera warna warni, menikmati santapan syurga yang lezat, minum susu dan madu yang suci bersih dalam gelas yang tak pernah kering, bersama-sama dengan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka dari golongan nabi, shiddiqin, orang-orang syahid dan beramal shaleh. Demikianlah kemurahan dari Allah dan kecukupan dari Allah yang Maha Mengetahui.

Ya Allah pada malam yang mulia yang penuh berkah ini, semoga Engkau jadikan kami orang-orang yang berbahagia yang diterima amal dan jangan engkau jadikan kami orang-orang yang celaka dan ditolak


Kamis, 30 Mei 2013


Kehidupan kupu-kupu sebagai salah satu filosofi kehidupan


Kupu-kupu adalah hewan yang sangat mungil dengan tubuh yang penuh dengan keindahan warna. Dalam taksonomi biologi, serangga ini termasuk dalam ordo Lepidoptera dengan berbagai macam spesies. Kupu-kupu memiliki bentuk yang khas dibandingkan dengan serangga yang lain. Selain bentuk sayapnya yang bervariasi diantara tiap spesiesnya, warna sayap kupu-kupu juga penuh dengan keindahan yang tiada tara.
Kupu-kupu merupakan salah satu serangga yang perlu diamati dalam kehidupan sehari-hari baik dari penampakannya maupun perilakunya. Perilaku kehidupan kupu-kupu dapat diibaratkan seseorang yang melakukan puasa atau telah berbuat taubat. Secara sederhana, kehidupan kupu-kupu berasal dari telur yang kemudian berkembang menjadi ulat. Dari ulat tersebut kupu-kupu akan berlanjut mengalami kepompong daan berubah menjadi kupu-kupu yang sebenarnya.
Kehidupan kupu-kupu memang menarik untuk dikaji lebih jauh khususnya bila ditinjau dari tingkah laku kupu-kupu tersebut. Awal pertama muncul didunia, kupu-kupu masih berupa telur yang hampir mirip dengan kehidupan manusia yaitu dalam kandungan ibu. Dalam beberapa hari, telur tersebut akan menetas menjadi ulat muda yang setara dengan bayi manusia. Kupu-kupu yang telah menetas akan berusaha beradaptasi yang pada akhirnya akan membawanya ke pertumbuhan yang lebih dewasa. Dalam kehidupan yang dewasa ini, ulat akan cenderung merusak tanaman. Hal ini dapat diibaratkan dengan seorang manusia yang mengalami gejolak kehidupan. Hal yang berbeda dari sini adalah kupu-kupu merusak tanaman karena mereka butuh makanan dan tempat tinggal. Mereka tidak akan merusak bila mereka mampu bertempat tinggal ditempat lain yang dapat membuat kupu-kupu tersebut merasa nyaman. Pada manusia, kerusakan tidak hanya terjadi karena keinginan bertahan hidup saja, akan tetapi juga karena merusak adalah sesuatu kesenangan tersendiri.
Sisi lain dari ulat adalah mereka mempunyai bulu-bulu yang halus dan sering kali nampak indah untuk dilihat. Dibalik keindahan bulu-bulu halus ini tersimpan sesuatu senjata yang unik yang dapat membuat lawannya berpikir dua kali untuk menyerangnya. Ketika diserang, ulat akan cenderung untuk mempertahankan diri atau mengalah dengan cara menyingkir dari tempat yang berbahaya tersebut. Sifat ini kadang berbalikan dengan keadaan manusia, yakni sifat untuk tidak mau mengalah walau kadang dalam keadaan yang salah.
Dari proses kehidupan kupu-kupu yang sangat berkaitan erat dengan filosofis agama adalah proses hidupnya pada tahap kepompong. Tahap kepompong pada ulat merupakan cerminan dari manusia yang sedang melaksanakan puasa. Ulat yang berada pada tahap kepompong akan berdiam diri untuk tidak melakukan sesuatu yang merusak bahkan akan selalu berdiam diri hingga tahap kepompong tersebut berakhir. Dalam tahap kepompong ini ulat juga akan menerima cobaan yang mempertaruhkan nyawanya. Bila ulat tidak mampu melewati masa ini, ulat akan berakhir dengan kematian. Namun bila ulat mampu bertahan hingga tahap kepompong berakhir, ulat tersebut akan berubah menjadi sesuatu yang lebih sempurna, baik dalam perilakunya maupun dalam penampakan bentuknya. Ulat yang telah berubah menjadi kupu-kupu akan mempunyai perbedaan sifat yang jauh sekali dari bentuk sebelumnya. Ulat yang dulunya berbentuk jelek, bahkan manusia jijik untuk memegangnya setelah berubah menjadi kupu-kupu maka manusia akan menyukainya dan tidak ragu untuk memegang dan memilikinya. Ulat yang dahulunya merusak dan memakan dedaunan tumbuhan, maka setelah menjadi kupu-kupu tidak akan merusak lagi. Mereka hanya mengambil sari madu tumbuhan. Cara pengambilan madu tersebut bahkan dengan lemah lembut yang tidak meninggalkan luka atau bekas yang berarti pada tumbuhan. Disamping hal itu, pengambilan madu ini juga membantu tumbuhan tersebut dalam penyerbukan sehingga tanaman tersebut dapat menghasilkan buah dan melanjutkan keturunan. Hal ini berbeda sekali dengan ulat yang merusak daun dan meninggalkan bekas yang nampak besar, bahkan dapat membuat tumbuhan tersebut mati.
Hal ini merupakan fenomena kehidupan yang perlu dikaji dan dipahami secara mendalam oleh manusia. Siklus dari kepompong hingga mencapai kupu-kupu tersebut dapat diaplikasikan bagi seseorang yang sedang melakukan ibadah puasa. Ketika berpuasa, seseorang harus menahan semua perbuatan buruk yang selalu menyertainya. Dia harus berusaha untuk berbuat baik dalam kehidupan sehari-harinya. Bila orang tersebut tidak mampu menjauhi perbuatan buruk tersebut maka orang tersebut dapat diibaratkan ulat yang gagal menjadi kupu-kupu. Namun bila seseorang mampu menjalaninya dengan baik maka orang tersebut setelah berpuasa akan berubah menjadi lebih baik, baik dalam tingkah laku maupun kepribadian. Dia tidak akan merugikan orang lain. Dia akan cenderung menolong orang lain.
Di masa modern yang cenderung tertuju pada ilmu dan teknologi, hal tersebut merupakan beberapa sifat yang dapat diambil hikmahnya dan diaplikasikan dalam kehidupan manusia. Dengan mempelajari fenomena-fenomena kehidupan tersebut diharapkan manusia dapat menjadi lebih baik dan bijaksana dalam menyikapi kehidupan.

Rabu, 29 Mei 2013

DO'A SHOLAT DHUHA


read:

Allahumma innadh dhuha-a dhuha-uka, wal bahaa-a bahaa-uka, wal jamaala jamaaluka, wal quwwata quwwatuka, wal qudrata qudratuka, wal ishmata ishmatuka. allahuma inkaana rizqi fis samma-i fa anzilhu, wa inkaana fil ardhi fa-akhrijhu, wa inkaana mu’asaran fayassirhu, wainkaana haraaman fathahhirhu, wa inkaana ba’idan fa qaribhu, bihaqqiduhaa-ika wa bahaaika, wa jamaalika wa quwwatika wa qudratika, aatini maa ataita ‘ibaadakash shalihin.

Artinya: “Wahai Tuhanku, sesungguhnya waktu dhuha adalah waktu dhuha-Mu, keagungan adalah keagunan-Mu, keindahan adalah keindahan-Mu, kekuatan adalah kekuatan-Mu, penjagaan adalah penjagaan-Mu, Wahai Tuhanku, apabila rezekiku berada di atas langit maka turunkanlah, apabila berada di dalam bumi maka keluarkanlah, apabila sukar mudahkanlah, apabila haram sucikanlah, apabila jauh dekatkanlah dengan kebenaran dhuha-Mu, kekuasaan-Mu (Wahai Tuhanku), datangkanlah padaku apa yang Engkau datangkan kepada hamba-hambaMu yang soleh”.